Tontonan Minus Tuntunan

Tontonan dangdut bagi warga Jepara sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan. Pasalnya, dalam kurun waktu setahun pertunjukan orkes, libur hanya pada bulan puasa selebihnya tanpa hari libur. Saat puasa tiba, sebulan penuh bisa dipastikan tidak akan ditemukan orkes yang digelar.

Warga yang memiliki hajat walimah baik pernikahan, sunatan maupun perayaan yang lain meski mengeluarkan duit hingga jutaan rupiah tidak enggan untuk mengundang grup dangdut untuk menghibur shahibul hajat (tuan rumah) maupun warga. Pemerintah daerah pun demikian, beberapa even kebudayaan tahunan yang digelar dimeriahkan pula dengan orkes.

Pemilihan dangdut sebagai tontonan dan hiburan warga tentu bukan tanpa sebab-musabab. Karena, mayoritas penduduknya adalah pekerja keras maka mereka membutuhkan hiburan untuk refreshing. Meski mereka sudah mendengarkan lagu-lagu dangdut di tempat mereka kerja tetapi tidak puas kalau belum menyaksikan dangdut secara live. Boleh dibilang dengan mendengarkan maupun menonton dangdut seakan-akan memberikan efek semangat untuk semakin giat bekerja.

Disamping itu letak geografis kabupaten yang berada di kawasan pesisir. Sehingga, pekerja mebel maupun nelayan membutuhkan dangdut menjadi salah satu pilihan utama untuk hiburan. Hiburan saat selepas kerja, libur maupun pada waktu luang.

Lambat laun, tontonan dangdut yang awal mulanya diminati oleh pekerja maupun nelayan merambah kepada para anak muda maupun kalangan terdidik. Hal itu merupakan imbas dari sering melihatnya mereka tayangan dangdut di tempat umum, baik di angkutan umum, warung dan tempat kerja. Sehingga setiap kali ada tontonan dangdut bisa dipastikan ribuan orang memadati area pertunjukan yang disuguhkan oleh warga.

Minus Tuntunan
Sayangnya, tontonan dangdut yang ada masih jauh dari tuntunan. Artinya, tontonan itu belum bisa memberikan memberikan efek positif bagi masyarakat. Mulai biduan yang mengenakan pakaian seksi, penonton menenggak minuman keras hingga oplosan. Lebih dari itu, efek yang ditimbulkan kemudian adalah tawuran antar penonton. Apalagi awal September, kita digegerkan dengan kabar tewasnya Muhlisin (23) warga desa Menganti kecamatan Kedung selepas menonton dangdut di desa Bugel. Kejadian itu bukan yang pertama kalinya tetapi sudah berulang kali.

Berpijak dari hal itu berbagai pihak perlu melakukan muhasabah (interospeksi) agar dampak negatif yang ditimbulkan tidak semakin membabi-buta. Pemerintah daerah sebagai pemangku kekuasaan tertinggi tentunya mengurangi tontonan dangdut yang bebarengan dengan even kebudayaan. Semisal mengganti dangdut dengan kesenian tradisional yang kian hari semakin ditinggalkan oleh masyarakat.

Pemerintah tidak perlu cemas apalagi khawatir jika pertunjukan itu tidak diminati oleh warga. Tetapi yang lebih penting adalah momen untuk nguri-nguri kabudayan. Lambat laun jika pemerintah getol memberikan tontonan yang kaya akan tuntunan niscaya spirit kebudayaan yang semakin pudar akan bisa kembali menggelora.

Aparat kepolisian sebagai penegak hukum juga memiliki peran. Selain menindak tegas warga yang berantem pada saat tontonan digelar, juga perlu rutin menggerebek penjualan miras dan oplosan maupun tentang perizinan tontonan dangdut. Juga kepada pemilik grup dangdut, diharapkan semakin tambah dewasa. Bahwasanya erotisme tentu akan mengundang tindak kejahatan yang bertubi-tubi. Selain mudah mengundang tindak asusila juga merembet kepada tindakan jahat yang lain semisal tawuran, permusuhan, dendam hingga pembunuhan.

Bos grup dangdut perlu mengurangi erotisme biduan. Pakaian minim dan seksi sudah saat saatnya diubah dengan vokal yang berkualitas. Bukan sebaliknya, suara adalah nomor kesekian yang penting goyangan maut dan mengundang syahwat kelelakian. Penyanyi tembang Melayu Siti Nur Haliza asal negeri Jiran, Malaysia meskipun tidak mengumbar syahwat toh ia dikenal oleh khalayak umum. Hal itu bisa menjadi amsal para bos dangdut maupun biduan untuk mengubah arah.

Masyarakat pun demikian, disaat tontonan dangdut mulai dulu hingga sekarang telah menimbulkan efek negatif lebih-lebih telah merenggut banyak korban maka perlu adanya pergeseran paradigma (pola pikir). Memberikan tontonan gratis kepada warga hendaknya pula perlu bernilai tuntunan. Ketika sedang memiliki hajat (gawe) apa tidak lebih baik menggantinya rebana, shalawatan maupun pengajian. Malah-malah efek yang ditimbulkan akan positif. Selain menentremkan juga minim dampak negatif.

Bisa juga mengganti tayangan dangdut dengan musik kreatif, musikalisasi puisi, teater, drama, dagelan (humor) yang pengeluarannya tidak mencapai angka jutaan. Toh, pertunjukan-pertunjukan itu selain menghibur juga akan memberikan tuntunan kepada masyarakat. Barangkali jika pertunjukan itu sepi tidak menjadi masalah yang penting warga khusyuk menikmatinya.

Sebagai penonton dan penikmat dangdut perlu lebih cerdas. Jika memang menonton orkes untuk sarana hiburan maka tidak perlu mengonsumsi minuman keras maupun oplosan. Datang ke tempat pertunjukan menikmati hiburan dengan nyaman sampai rampung. Damai dengan penonton lain tanpa adanya permusuhan dan pertengkaran. Sehingga, warga yang datang tujuannya untuk menikmati sebuah hiburan musik dangdut tidak merasa was-was, aman sekelilingnya tidak ada adu jotos dan bisa menikmati tontonan dengan khusyuk. Begitu! (sm)
Previous
Next Post »