Pesan Dokter Amir

http://www.rsebk.com
Sepulang sekolah, suhu badan Himawan tiba-tiba memanas. Setelah meletakkan tas, membuka sepatu dan ganti baju ia berbaring diatas tikar depan televisi. Ibu yang berada di dapur, memasak dipanggilnya, “Ibu….ibu.” Ibu pun tak muncul-muncul karena jaraknya tidak berdekatan apalagi diluar hujan deras. Ia memanggilnya berulang-ulang sampai akhirnya ketiduran.

Beberapa menit kemudian ibu datang. Ibu pun tenang karena tidak seperti biasanya sepulang sekolah anaknya tertidur pulas. Tiba-tiba ibu melihat seragam merah-putih dan sepatunya basah kuyup. Ibu mulai mengetahui badannya panas setelah memegang kepalanya. Diambillah air dan dibasahkannya pada selembar kain lalu dikompreskan dikepala Awan. Beliau berharap panas anaknya bisa segera turun meski dengan cara yang sederhana.

“Wan…awan,” panggil Amar dan Zula, dua teman yang biasanya bermain dengan Himawan. “Awan lagi sakit nak,” tutur Ibu kepada mereka setelah membukakan pintu rumahnya. Kedua anak laki-laki dan perempuan itu tidak percaya mereka segera menghampiri Awan didepan televisi. Mereka berusaha membangunkan Awan dengan memanggil-manggilnya. “Sssssssttttt. Jangan berisik ya nak, Awan lagi sakit,” bisik Ibu. Karena masih tidak percaya secara bergantian memegang kepala Awan. Ternyata benar. Badan Awan lagi panas.

“Nak pulang dulu ya. Kalau Awan sudah sehat kalian boleh bermain-main lagi,” pinta Ibu kepada mereka. Meski muncul rasa kekecewaan mereka pun lantas pulang dan diantarkan Ibu sampai luar rumah. Diluar hujan masih mengguyur. Mereka pulang dengan membawa payung yang dibawanya.

Hampir dua jam Awan tak bangun-bangun. Ibu masih menungguinya serta menoton televisi. Tak lama kemudian bapak datang dari bekerja. Disusul Fuad, kakak Awan yang sudah kelas VIII SMP.

Ibu bercerita kepada bapak dan Fuad tentang Awan. “Pak, Awan sakit. Badannya panas. Sepulang sekolah saya kompres kepalanya dengan selembar kain,” kata Ibu mengawali pembicaraan dengan Bapak dan anaknya. Fuad langsung menyela pembicaraan Ibu, “pasti Awan tidak mau membawa payung dan mengenakan jas hujan yang aku belikan,” katanya dengan nada sedikit emosi.

“Jangan keras-keras nak bicaranya nanti adikmu bangun,” tutur Bapak berusaha meredam emosi anak pertamanya. “Bapak yakin tidak perlu dipaksa lambat laun Awan akan menjaga kesehatannya apalagi setelah dia jatuh sakit,” nasihat Bapaknya. Karena pembicaraan Ibu, Ayah dan Fuad, Awan pun bangun serta memanggil-manggil Ibunya, “Ibu…Ibu, Awan sakit,” panggil Awan.

Ibu pun mendekat dan memegang kepala Awan. Panasnya semakin meninggi. Segera Ibu menyuruh suaminya untuk memeriksakan Awan ke dokter, selepas Ashar.
***

Dibawalah Awan ke dr. Amir, di kampung sebelah. Karena ia masih lemas Bapaknya mengajak kakaknya memeganginya. Dokter menanyakan sakit Awan. “Anak saya hujan-hujanan dok,” jelas Bapak kepada dokter. Dr Amir kemudian memeriksa Awan di ruang praktik. “Disuntik ya nak.” seru dokter. “Tidak usah pak dokter aku takut dengan jarum suntik,” jawab Awan dengan nada sedikit ketakutan. Dr Amir akhirnya tidak jadi menyuntik.

“Pak, obatnya bisa diambil di depan,” ungkap dokter. Sebelum pulang dr Amir memberikan nasihat kepada Awan,”karena cuaca kurang menentu kalau berangkat sekolah bawa payung dan jas hujan ya nak, demi kesehatanmu,” pesan dokter kepada Awan. Selama tiga hari, lanjut dokter agar digunakan untuk istirahat terlebih dahulu. “Iya dok,” Awan mengiyakan nasihat dokter Amir.

Selama sakit setelah hujan-hujan siang itu, Awan memang beristirahat di rumah dan tidak masuk sekolah selama tiga hari. Kakaknya, Fuad sudah membuatkan surat izin dan dilayangkan ke sekolah. Selama tiga hari Awan meminum obat setelah makan tiga kali sehari, istirahat dan makan yang teratur. Tiga hari telah dilalui, badan Awan sudah agak mendingan.

Pagi hari setelah bangun tidur ia ingin berangkat sekolah karena takut ketinggalan banyak pelajaran. Ibu pun mengizinkannya. Selepas mandi, ganti baju dan makan pagi ia berpamitan pada Ibu dan Bapak.

Pulang sekolah dalam perjalanan pulang tiba-tiba turun hujan. Ia masih ingat akan pesan dokter Amir. Diambilnya payung dan jas hujan yang ada ditasnya. Dan dipakailah. Sampai di rumah, Ibu yang menunggui kepulangannya tidak khawatir lagi karena Awan tidak hujan-hujanan dan mau memakai payung dan jas hujan yang dibelikan kakaknya. (sm)
Previous
Next Post »