Perempuan, Suara Merdeka, 06 Agustus 2008Oleh Syaiful Mustaqim
pemerhati kajian perempuan dan direktur Smart Institute, Jepara
ADALAH Waljinah sang empu keroncong yang kerap kali menembangkan ”Yen ing tawang ana lintang, Cah Ayu”. Dia terkenal pada era 1960-an. Kini seolah-olah penerus perempuan yang lahir di Solo, 7 November 1943 ini tak ada.
Apa sebab? Lihat saja, kini tak banyak perempuan yang menekuni keroncong laiknya Waljinah. Apalagi di tengah arus pengap globalisasi ketika banyak yang beranggapan bahwa keroncong adalah budaya kuno alias jadul (zaman dulu) yang berimbas juga pada minimnya mereka yang bergelut di dunia keroncong.
Meskipun ada, toh nyatanya mereka bisa dihitung dengan hitungan jari. Artinya sangat berbeda ketika perempuan itu lebih suka dengan aliran musik misalnya dangdut, pop, rock dan sebagainya.
Atau barangkali memang para perempuan saat ini sudah enggan untuk menggeluti budaya, tetapi lebih enjoy dengan ranah yang lain.
Lima atau sepuluh tahun mendatang tampaknya perempuan yang menggeluti keroncong sekaliber Waljinah hanya tinggal kenangan.
Jika sampai saat ini belum ada strategical planning untuk kembali mengangkatnya ke permukaan (dalam arti ada kelompok atau komunitas yang dengan rela nguri-nguri budaya keroncong), bisa jadi masa depan keroncong hanya tinggal nama.
Pada Mei 2008 yang lalu atau menjelang satu abad kebangkitan perempuan Indonesia, Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) telah memprakarsai pemberian Penghargaan MURI. Tercatat sebanyak 100 perempuan yang diberikan penghargaan dengan prestasi dan kepeloporannya dalam berbagai bidang.
Kebangkitan Perempuan
Menurut Direktur MURI Aylawati Sarwono, penghargaan MURI memeringati seabad kebangkitan perempuan Indonesia bertujuan menunjukkan peran perempuan Indonesia.
Dan, sebagian di antara perempuan yang menerima penghargaan adalah Miranda S Gultom sebagai empu Perbankan Indonesia, BRA Mooryati Soedibyo sebagai empu Jamu, Marie Elka Pangestu sebagai Perempuan Pertama yang menjadi Menteri Perindustrian, Susi Susanti sebagai Perempuan Pertama yang memperoleh Emas Olimpiade, Siti Musdah Mulia sebagai muslimah pertama penulis buku Poligami serta Waljinah sebagai sang empu Keroncong.
Waljinah yang hanya menggeluti dunia keroncong selayaknya kita jadikan teladan. Berbagai penghargaan diterima, di antaranya pemenang Ratu Kebon Kacang 1958, pemenang Bintang Radio 1965, Anugerah Seni Jawa Tengah 2002, Hadiah Seni 2006 dari pemerintah RI dan lain sebagainya.
Semoga saja, entah sampai kapan masih ada segelintir orang yang mau laiknya Waljinah, meski hanya menjadi kaum minoritas. Sehingga nantinya akan muncul waljinah-waljinah masa depan yang turut meng-eksis-kan keroncong, meski keroncong berada di tengah himpitan arus globalisasi. []
ConversionConversion EmoticonEmoticon