Memuhammadiyahkan Istri dan Anak

Istri Pak Saluri tiba-tiba komplen karena tarawih yang sebelum-sebelumnya ditunaikannya 23 rakaat tiba-tiba berubah jadi 11 rakaat. Sebagai anggota Muhammadiyah (MD) aktif maka komplen dari istri itu segera ditanggapi oleh sang suami. Istri yang mulanya NU tulen itu diajak pensiunan guru SD Cepogo, Kembang, Jepara ini untuk silaturahmi ke ustadnya. Di rumah ustad istri pak Sulari diwejang sang ustad perihal shalat tarawih 11 rakaat dan memantapkan kemuhammadiyah sang istri.

Setelah berhasil memuhammadiyahkan istri yang awalnya warga NU, pak Sulari yang baru pensiun dari SD 5 tahunan ini juga masih punya PR untuk memuhammadiyahkan anaknya.

Kisah yang dijabarkan lelaki berjenggot saat bersua dengan saya di Bengkel Wawan Motor Desa Cepogo, Kamis (21/2/2019) lalu ini dikemukakan panjang lebar. Singkat kisah, anak pertama putri yang baru kelas 3 MTs mulai membantah dengan perintah ayahnya.

"Nduk Bapakmu anggota MD, ibumu anggota Aisiyah maka kamu sudah saatnya gabung dengan MD," pinta Bapak. Si anak pun malah bantah. "Gak usah MD-MDan Pak. Islam saja Pak," bantah anaknya.

Setelah membantah si bapak pun juga menambahi dengan argumen kalau di kampungnya islam menurutnya sudah terkotak-kotak ada yang NU, MD, maupun Syiah.

Bapak 3 anak asli Cepogo ini yang menemui problem itu akhirnya menemui Ustad Mustain Bangsri dan mengutarakan problemnya itu. "Solusinya setelah lulus dari MTs Maahid Kudus saran dari ustad saya untuk menyekolahkan anak pertama ke SMA Muhammadiyah Bangsri," jelasnya kepada saya.

Disekolahkannya anak pertama di SMA MD di Bangsri itu sebenarnya agak ditolak oleh anaknya. Tetapi hal itu dilakukannya demi kebaikan.

Dia beranggapan sebagai warga MD maka sekolahnya pun kudu di Muhammadiyah. Tujuannya kelak anaknya agar ideologi anak tidak berseberangan dengan orangtuanya. (sm)


Foto : Murid SD Muhammadiyah sedang berdoa untuk korban musibah. (kabarsurabaya.com). 
Previous
Next Post »