26 Jan 2012

Cabup-Cawabup Ziarahi Makam Citrosoma

Calon Bupati (Cabup) dan Calon Wakil Bupati (Cawabup) Jepara yang akan bertarung pada Pilkada 29 Januari telah menziarahi makam Citrosoma yang berada di Desa Sendang Kecamatan Kalinyamatan, Jepara. Dari keempat pasang calon yang ada kecuali pasangan nomor empat yang belum diketahui kehadirannya oleh pengelola. Demikian dikatakan H Noor Cholis, juru kunci Makam Citrosoma, Rabu (25/1) kemarin.

Menurutnya, sejak Balon (Bakal Calon) mempromosikan dirinya ke tengah masyarakat hingga pengumuman, mereka sudah datang ke Sendang untuk Berziarah.


“Dari Cabup-Cawabup yang ada pasangan nomor 1-3 sudah saya ketahui kedatangannya karena izin langsung. Sedangkan untuk pasangan nomor 4 belum ketemu dengan saya. Barangkali melalui Mbah Abdul Qodir, wakil saya yang rumahnya depan makam,” paparnya.

Kehadiran mereka, lanjutnya biasanya pada larut malam selepas jam 00.00 WIB. “Kalaupun ada yang belum datang biasanya diwakilkan oleh Tim Kampanye,” tambah lelaki yang tinggal di Desa Sendang RT.01 RW.02.

Diungkapkannya, kehadiran mereka ke makam Citrosoma bukan tanpa alasan. Citrosoma imbuhnya merupakan cikal bakal pemerintahan kota Jepara. Karena itu mereka datang mendoakan sekaligus meminta “restu” kepada pendahulu. Di makam tersebut terdapat makam Citrosoma I-VII kecuali II. Untuk Citrosoma II makamnya di Desa Bapangan, Jepara.

Mengenai hajat, Cholis menyebut beberapa hal semisal mereka yang berziarah rata-rata menginginkan sebuah jabatan semisal ingin mendapatkan pekerjaan, masuk ke sekolah favorit, nyalon sebagai pejabat dan masih banyak lagi.

“Ketika hajatnya terkabul biasanya ada yang menggelar syukuran di makam seraya menghaturkan ucapan terima kasih kepada kami,” jelas lelaki kelahiran 05 Oktober 1964.

Meski demikian, Cholis selalu mewanti-wanti kepada para peziarah agar tidak meminta-meminta kepada orang yang telah mendahului. “Saya selalu berpesan kepada para peziarah agar tidak meminta-minta kepada orang yang telah tiada. Berziarah ya murni untuk mendoakan para arwah.” Demikian pesan sesepuhnya yang selalu diungkapkan kepada peziarah.

Jika peziarah masih bersikeras ia pun tidak lantas memaksanya. “Yang terpenting saya sudah berpesan kepada peziarah. Perkara mereka tidak mengindahkannya itu sudah menjadi urusan mereka. Tujuan saya tidak lain agar antara iman dan kufur tidak saling dicampur aduk,” tegasnya. (Syaiful Mustaqim)

0 komentar:

Poskan Komentar