13 Des 2011

PBNU: Islam Toleran Butuh Ihsan

KH Masdar Farid Mas’udi, Rois Syuriah PBNU mengatakan untuk mewujudkan Islam toleran dibutuhkan Ihsan (tenggang rasa). Tenggang rasa yang ia maksud ialah dalam memeluk Islam tidak perlu mengaku paling benar sendiri. Demikian dikatakannya dalam Halqah: “Islam Toleran dalam Himpitan Gerakan Islam Trans-Nasional” di gedung Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), Jalan Sunan Kudus No.194 Kudus, Ahad (11/12) kemarin.

Masdar mengungkapkan dengan tenggang rasa maka diharapkan tidak ada yang mengaku paling benar sendiri. Sebab kebenaran ungkapnya adalah murni milik Allah SWT.

Hadits tentang 73 golongan Islam, paparnya diakhir kalimat menggunakan ana waashabihi. Ia menjelaskan kalimat pungkasan hadits tersebut menjelaskan bahwa Nabi tidak mungkin menyebut golongan yang bakal selamat dengan menunjuk golongan secara langsung. Sehingga, hal itulah yang menurutnya dijelaskan sebagai nisbi, kebenaran yang belum tentu mutlak. “Semua boleh mengaku benar tetapi tidak boleh menganggap yang lain itu salah atau bahkan mengkafirkannya,” imbuhnya.

Berkaitan dengan kebenaran nisbi lantas Masdar mengutip pendapat Muhammad Idris Assyafii,”Pendapat saya benar menurut saya tetapi salah menurut anda. Pendapat anda salah menurut saya dan benar menurut anda,” kutipnya.

Sehingga Islam jelasnya adalah lailaha illallah sebagai pijakan tauhid. Kemudian disempurnakan dengan perilaku tsummastaqim, berbuat baik dan tulus kepada sesama.

Ia melanjutkan Islam toleran tegasnya sudah dipraktikkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam Pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa (Tauhid) sebagai landarasan spiritual. Kemanusiaan yang adil dan beradab (Karamatul Insan), acuan moral.

Persatuan Indonesia (Ukhuwah), acuan sosial. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan (Syuro Bainahum) dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (al-adalah), sebagai tujuan muaranya. (Syaiful Mustaqim)

0 komentar:

Poskan Komentar