Saat Wartawan menyambangi rumahnya di Demaan RT.01 RW.02 Jepara ia mengatakan film garapannya dikerjakan dalam dua bulan. “Bulan Agustus mencari data dan September mulai proses produksi,” katanya.
Dalam Trah Prabangkara ia menyajikan wawancara pada sejumlah narasumber mulai pekerja, pengusaha, pendidik dan praktisi ukir. “Film dokumenter yang saya sajikan merupakan gagasan saya untuk nguri-nguri kerajinan ukir,” imbuhnya.
Kenapa ukir? Lantas ia menjelaskan ukir merupakan warisan leluhur yang sudah membumi sejak ratusan tahun silam. Secara turun temurun, jelasnya hampir di semua desa di Jepara ditemukan perajin ukir.
Karena itu ia menyebut Ratu Kalinyamat, RA Kartini dan dongeng Prabangkara. “Waktu itu era Ratu Kalinyamat Jepara merupakan pusat pelabuhan dunia. Kerajinan ukir sudah dikenalkan oleh Kalinyamat kemudian diteruskan Kartini. Ukiran yang menempel pada dinding masjid Mantingan merupakan bukti bersejarah Jepara layak di sebut sebagai kota ukir,” tambahnya.
Sedangkan Prabangkara menurutnya merupakan sebuah dongeng yang konon dielu-elukan sebagai ikon munculnya kerajinan ukir untuk kali pertama. Nung berharap kepada seluruh masyarakat Jepara agar kerajinan ukir tetap lestari maka harus diuri-uri jangan sampai ditinggalkan “Caranya kerajinan ukir harus ditularkan dan diwariskan kepada anak cucu kita,” lontarnya. (Syaiful Mustaqim)
0 komentar:
Poskan Komentar